Program Indonesia Pintar Untuk Pondok Pesantren

Pondok pesantren memiliki bagian yang tidak terpisahkan dari eksistensi NKRI sebagai filosofi bangsa Indonesia. Hal ini selain ditunjukan dengan nilai history keberadaan pesantren sebagai unsur penyusun negara di masa kemerdekaan juga ditunjukan dengan banyaknya tokoh pesantren pendahulu dan kontemporer yang menjadi tokoh nasional baik dibidang pendidikan, sosial, politik dan ekonomi. Sebut saja Nurkholis Najid di bidang pemikiran islam, Saifullah Yusuf (gubernur jawa timur), dan yang menjadi puncak jabatan adalah KH. Abdurrahmad Wahid sebagai presiden republik indonesia ke-4. 

Namun demikian, pesantren dengan segala keberagaman jenisnya tak lepas dari pasang surut pembangunan negara dalam hal ini perhatian pemerintah. Sempat dipandang sebelah mata karena keberadaannya mayoritas dalam bentuk informal, kini Pondok Pesantren mulai mendapatkan perhatian kembali dari para pemangku jabatan di negara tercinta ini. Salah satunya adalah dengan program Indonesia Pintar (PIP) kementerian agama republik Indonesia yang telah dirilis pada tahun 2015.

Dalam Rapat kordinasi penyelenggaraan program indonesia pintar yang diselenggarakan oleh direktorat pendidikan diniyah dan pondok pesantren kementrian agama Republik Indonesia pada rabu (16/03) di Serpong Banten, Direktur Pd. Pontren Dr. H. Mohsen Alaydrus mengatakan bahwa pemerintah melalui konsep nawacita Presiden Jokowi menghadirkan dirinya ke seluruh elemen negeri ini termasuk di dalamnya pondok pesantren sebagai bentuk pelayanan kepada rakyat Indonesia. Salah satunya adalah PIP ini yang berusaha memberikan kesamaan fasilitas bantuan pendidikan yang diterima oleh santri pesantren dengan peserta didik dari jenjang program pendidikan lain.

PIP yang merupakan hasil perjuangan kementrian agama melalui dirjen pendidikan islam telah memberikan manfaat kepada tidak kurang dari 120.000 santri yang ada di seluruh Indonesia. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dari qupta yang disiapkan yang jumlahnya mencapai 400.000 santri untuk seluruh Indonesia. “dalam program ini peserta didik tingkat ula (setara sd-red) mendapatkan manfaat sebesar Rp. 450.000, tingkat wustho (setara smp-red) sebesar Rp. 750.000 dan tingkat Ulya (setara sma-red) sebesar Rp. 1.000.000” lanjut mohsen.

Program yang manfaatnya telah dirasakan oleh pondok pesantren yang berbasis kurikulum muadalah dan pendidikan diniyyah formal (PDF) menargetkan pada tahun pelajaran 2016-2017 ada lebih dari 400.000 santri yang berhak mendapatkan manfaat program ini seluruh Indonesia. Tentunya tidak semua santri akan mendapatkan ini, peserta dari program ini adalah santri pra sejahtera yang memiliki kartu jaminan sosial atau diterangkan sebagai santri tidak mampu oleh pimpinan pondok pesantren.

Namun yang amat disayangkan adalah rendahnya daya serap terrhadap program ini pada tahun pertama berjalannya. Salah satunya disebabkan oleh minimnya kesadaran manajemen pengolahan data yang terjadi di banyak Pondok Pesantren. “pesantren ini masih maunya dilayani, bahkan dia yang ngatur kita” canda mohsen di depan kepala bidang pontren dan pimpinan pesantren se indonesia yang disambut dengan tawa ringan peserta.

Dengan adanya program ini diharapkan pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia dapat memberikan kontribusi lebih dari apa yang telah diberikan kepada bangsa saat ini. (Ammar)

Leave a Comment